Pengobatan Tradisonal Memadukan Ramuan Arab dan Indonesia

Drs. Nadimudin dan istrinya Ny. Djamilah. 

Drs. HC Nadjmuddin HS, Ahli 

“Pengalaman  guru terbaik”. Begitu kata pepatah. Keabsahan pepatah itu, barangkali, tak perlu diragukan lagi. Sebab, pengalaman pada sekalipun, nyatanya bisa sangat berarti. Hal itu pernah dialami Drs. HC Nadjmuddin HS, dosen Universitas Islam Bandung (Unisbe). Bertahun-tahun. Nadjmuddin HS, dilanda sakit maag kronis. Berbagai obat ia telah dan dokter ahli ia kunjungi. Namun penyakitnya tak juga reda. Sekalipun sembuh, hanya sementara.Yang lebih mengkhawatirkan lagi, penyakit maag Nadjmuddin komplikasi dengan lever.

Malah diperparah dengan terserang tipus,tapi itu cerita dua tahun lalu. Sekarang dia sehat.” kata ny. Djamilah, istri Drs. HC Nadjmuddin HS. “Jika dulu ia pantang makan pedas, sekarang gule kambing sekalipun tak jadi masalah,” katanya sebelumnya, dari satu hari ke hari lain nya. Djamilah tak putus – patus mencari jalan kesembuhan suaminya. Setiap mendengar ahli pengobatan disebut orang, ia selalu mencoba berkonsultasi. Karena tak tahan melihat keadaan suaminya, ia pernah meratap pada dokter langganannya. “Waktu itu saya bilang, agar dokter memberi obat yang paling prima, bukan yang paling mahal. Mengapa saya berkata begitu, ya, lantaran obat yang paling mahal ternyata tidak menyembuhkan penyakit suami saya,” kata ny.

Djamilah, seorang wanita keturunan Arab.”Beruntung, suami saya diberi kesabaran. Sekalipun harus makan bubur cah selama tiga bulan, ia tak mengeluh,” kata ny. Djamilah, lulusan Akademi bahasa Asing (ABA).Pada saat Nadjmuddin masih membutuhkan perawatan, malah mendapat tugas belajar ke Medinah University. ny Djamilah, yang tidak bisa menyertai suaminya, merasa khawatir. Bagaimanapun kepergian suaminya bukanlah untuk istirahat mencari suasana tenang, tapi menghadapi tugas berat.

Setelah beberapa lama Drs. HC Nadjmuddin di Timur Tengah, Ny Djamilah mendapat kabar yang sama sekali di luar dugaannya. Dengan penuh suka cita, suaminya mengabarkan, mengalami kesembuhan total.”Sungguh saya tidak menyangka. Bahkan, suami saya bisa mengobati teman-temannya di KBRI Saudi Arabia,” kata Ny Djamilah.Kesembuhan Nadimuddin, dimulai dari ketidaksengajaan. Ketika tengah jalan-jalan, lelaki kelahiran Sukabumi itu, menemukan kitab dengan judul “Pengobatan Rasulullah, di sebuah toko buku.

Pada saat senggang, Nadjmuddin mempelajari kitab itu. Kadang ia konsultasi dengan paman istr nya yang berada di Arab. Dari paman istrinyalah, Nadjmuddin mendapat beberapa petunjuk bahan  obat yang dibutuhkan, seperti tertulis dalam kitab.

Bukan hanya mempraktekkan ramuan di kitab itu yang dikerjakan Nadjmuddin. Sebelum berangkat ke Medinah, ia pernah mempelajari pijit refleksi dari sebuah buku. Perpaduan antara ramuan dengan pijitan, ternyata membuahkan kesembuhan”Sepulang dari Medinnah, suami saya mempraktekkan pada kawan-kawannya di Unisba. Alhamdulillah, banyak yang sembuh. Penyakit mereka rata-rata sama dengan yang pernah dialami suami saya, bisa cepat diatasi,” ujar Ny Djamilah, yang kini bersama suaminya membuka praktek pengobatan tradisional di Gg Pesantren, JI Pagarsih Bandung. Pengakuan Ny Djamilah, suaminya kini sanggup mengobati beberapa penyakit.

Konon, menyembuhkan maag hanya memerlukan waktu sepuluh menit, setelah minum ramuan. Kecuali amandel. ginjal, lever, hepatitis A/ B dan gula, memerlukan waktu. Ambeien, rematik, keputihan kata Ny Djamilah, termasuk penyakit yang gampang disembuhkan.”Kami tidak melakukan operasi, sekalipun penyakitnya kanker payudara,” ujar ny Djamilah, yang membantu suaminya dalam mendiagnosa pasien.Ramuan obat-obatan yang digunakan Nadjmuddin, merupakan paduan rempah-rempah Timur Tengah, seperti rumput fatimah dan akar-akaran khas Indonesia.

“Saya jamin tidak berbahaya sekalipun diminum bayi, dan tidak mengandung bahan kimiawi,” kata NyDjamilah. Kemampuan lain yang dimiliki suami ny Djamilah, menyembuhkan penyakit problematika seks. Terutama impoten (lemah syahwat). Pengobatan penyakit itu, selain diberi ramuan khusus campur madu, jeruk nipis, telur bebek dil. disertai pula pijitan. Orang terserang penyakit maag, kata ny Djamilah, disebabkan karena orang lupa kewajiban.

“Tuhan tidak semata-mata menyediakan makanan bila bukan untuk kesehatan umatnya juga. Dan kita mesti ingat, makan bagi umat Islam merupakan ibadah. Jadi, bila kita melupakan nasi, artinya kita melupakan sebagian kewajiban beribadah,” kata ny Djamilah.Selain masih aktif mengajar di Unisba, Drs. Nadjmuddin dengan seorang adiknya, mengelola Darul Ikhsan, pesantren modern di tempat kelahirannya. (A Bakriel “PR”).

Senyum Pasien: Tiba – tiba, pasangan suami-istri Drs HC,Najmuddin HS yang staf pengajar di Unisba (Universitas Islam Bandung) dan Djamilah, dikenal sebagai ahli pengobatan tradisional. Berita dari mulut ke mulut tentang nilai lebih yang mereka miliki dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit, tanpa dioperasi, obat-obatnya pun bebas dari bahan kimiawi, silih bergantilah masyarakat di sekitar kediaman mereka datang meminta bantuan.

Dilandasi niat untuk meringankan beban penderita, setiap pekerjaan yang mereka lakukan tak pernah berujung ke unsur komersial. Tidak sebagai mata pencarian, apalagi untuk menjadi kaya, kata Najmuddin belum lama ini di kediamannya, Gang Pesantren, Pagarsih, Bandung. Sampai saat ini sedikitnya 4900 penderita berbagai macam penyakit yang telah mereka sembuhkan.

Pengobatan dengan memberi ramuan yang bersumber pada akar tetumbuhan yang terdapat di Indonesia dan Arab Saudi yang telah mereka praktekkan selama tiga tahun terakhir ini, “Bila perlu ditambah dengan pijat refleksita Najmuddin, berawal dari suatu kebetulan. “Saya sedang tugas belajar di Arab. Ketika mendapatkan Kitab ‘Pengobatan Rasul’ yang juga lazim disebut Attibun Nabawi itu, kebetulan saat saya sedang berjalan-jalan di sana,” cerita Najmuddin kemudian, “Mulamula saya praktekkan pada diri sendiri.

Setelah terbukti komplikasi maag dan lever kronis yang saya derita dapat disembuhkan berdasarkan petunjuk kitab itu, barulah saya berani mengobati orang.”Tarif termahal: Rp 30.000, sampai sembuh bagi penderita Lemah syahwat, diabetes dan keputihan, “Yang lainnya hanya Rp 15.000,” kata Djamilah Najmuddin yang sebenarnya berat hati menerima bayaran. Ternyata, hasil yang mereka peroleh, di investasikan untuk keselamatan umat. Alhamdulillah, berkat dukungan para pasien yang telah menikmati kesembuhannya, kata Najmuddin, mereka telah ikut membangun pesantren modern Darul Ikhsan di Sukabumi, di atas tanah seluas 5 hektar, menghabiskan biaya lebih dari Rp 900 juta.

Jika berpedoman Mengutamakan senyum pasien dalam dunia pengobatan, di pesantrennya itu Najmuddin justru menciptakan sumber daya manusia yang berguna bagi kemajuan negeri ini. 

 

Diliput oleh Gatont Bramentoza

Pengobatan Tradisional Ny. Djamilah Najmuddin
https://djamilah-najmuddin.com

Lokasi terapi baru (pindah dari Babakan Ciparay)

Jl Guntur Madu No. 3
Kel. Turangga, Kec. Lengkong, Kota Bandung

Kontak dan Janji Temu

081214408050
08157119940


0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

I agree to these terms.