Tabib Kuno, BRM dan Kesehatan Pengobatan Tradisonal

Seseorang datang kepada dokter dan mengatakan bahwa akhir – akhir ini badannya terasa lemas, lapar dan haus serta buang air kecil terus menerus. Setelah dilakukan pemeriksan, dokter mengatakan bahwa dia sang pasien telah mengidap penyakit diabetes. Lalu diharuskan untuk mengontrol makanan dan mengkonsumsi obat terus menerus. Selain itu dokter juga mengatakan bahwa panyakit diabates tidak dapat disembuhkan.Seringkali kita mendengar berbagai keluhan tentang penyakit diabetes. Dari keluhan penderita diabetes, kita bisa menangkap suatu perasaan betapa tersiksa dan terganggunya mereka.Kebebasan makan dan menikmati hidangan pun terampas. Sajian menu makanan tiap hari harus hati-hati dan diatur sedemikian rupa dengan jumlah dan jenis yang sesuai anjuran dokter Salah sedikit saja, bisa berakibat fatal.

Mengapa orang sampai mengidap diabetes dan apa penyebabnya.Semula para ahli menduga bahwa masalahnya bersumber pada pankreas yang memproduksi insulin. Tetapt banyak penderita diabetes yang memiliki kandungan insulinnya tetap normal. Cukup lama masalah ini tidak terpecahkan. Di tengah pencarian tentang penyebab utama diabetes, berbagai upaya pun dilakukan para ahli. Termasuk mencari tahu dari sumber referensi pengobatan pada buku kuno Tionghoa.

Pada buku tabib Tiongkok Kuno salah satunya disebutkan bah wa sumber diabetes (diduga) berasaldari ginjal Menurut salah seorang pakar biokemistri, Ir. Ohim Sujana, MSc, dari hasil kajian ilmu biokimia dan bioteknologi membuktikan bahwa dugaan pada buku tabib China Kuno Titu ada benarnya. Para ahli menyata kan bahwa hormon yang dikeluarkan oleh ginjal yang disebut non adrenalin memerintahkan liver sebagai guAdang gula untuk mengeluarkan gula yang tersimpan, sehingga kandungan gula dalam darah meningkat.

Sedangkan dalam liver tidak ada cadangan gula maka si penderita akan terus merasa lapar Unuk mengatasinya, kata Obim yang mendapat gelar master dari salah satu universitas RRC, tidak dapat dengan cara menghancurkan gula yang terkandung dalam darah atau mengu rangi konsumsi makanan.

Info lainnya klik link di bawah ini

Karena gula itu sangat dibutuhkan oleh tubuh kita, maka perubahan ini harus dihentikan dan dikembalikan kepada keadaan semula, sehingga tubuli kita akan sehat kembali. Metodenya sama dengan yang salama ini dijadikan al ternatif dalam pengobatan yakni metode biological response modifier atau BRM yakan membangkitkan tubuh agar memiliki kemampuan memperbaiki diri dan menyembuhkan penyakit.Untuk penderita diabetes, harus di upayakan bagaimana memperbaiki kelainan ginjal agar dapat berfungsi normal kembali rahim juga menyebutkan, bukan hanya penderita diabetes saja, tetapi penderita darah tinggi atau hipertensi juga bisa melakukan hal serupa karena masalahnya bersumber pada ginjal. Hanya be danya, jika diabetes disebabkan olch kelainan hormon non adrenalin, se dangkan darah tinggi disebabkan oleh kelainan hormon adrenalin yang keduanya diproduksi ginjal.

Karena fungsinya sebagai alat filter, ginjal paling banyak berhadapan dengan berbagai racun, kotoran dan bahan-bahan lain yang berbahaya bagi tubuh manusia, sehingga proses kerjanya relatif mudah terganggu. Ditambah lagi dengan kebiasaan pola konsumsi yang tidak memikirkan kebutuhan tubuh melainkan hanya menuruti selera makan saja, sering mengakibatkan racun-racun terus bertumpuk dan pada suatu hari terjadilah gangguan tersebut,” kata rahim, yang mengaku sudah banyak mengka- ji buku-buku pengobatan China Kuno.Dalam pandangan rahim, secara umum gangguan pada ginjal dikategorikan menjadi dua bagian. Pertama, pada saluran pembuangan ginjure jadi banyak endapan seperti batu ginjal. Ini biasanya berhubungan dengan hypertensi.

Kedua, terjadi perubahan pada sel-sel ginjal, biasanya terjadi pada penderita diabetes.Untuk mengatasi masalah di atas. katanya, jelas harus membantu ginjal agar dapat bekerja secara normal kembali dan yang dapat melakukannya adalah serat atau polisakarida Terutarna serat yang dapat larut dalam air. Serat macam ini agak sulit didapatkan karena jarang ketersediaannya. Sebagai ahli biokimia kelautan (Ocennology biochemistry) rahim setuju juga penggunaan ganggang cokelat yang mengandung serat guluronat) dijadikan alternatif mengatasi masalah tersebut. Bahkan pihaknya sudah melakukan penelitian penggunaan ganggang cokelat dalam upaya mengatasi sejumlah penyakit. Hasil penelitian menunjukkan, prosentase keberhasilan ganggang cokelat mengatasi kolesterol tinggi dan darah tinggi jauh lebih.

bumi. Sumedang. Garut, dan Purwakarta.Saat itu, kata Djamilah, praktik pengobatan mulai dilakukan di rumahnya, di Gang Pesantren 143/8, J1 Pagarsih, Bandung Selanjutnya tamu mulai berda tangan pula dari sejumlah kota besar yang ada di pulau Jawa Seiring dengan itu kami pun akhirnya pindah rumah ke sini,”ceritanya.

Saat hendak mematok tarif bagi para pasiennya, Djamilah mengaku, merasa rikuh. Namun ketika bahan baku utama dari Madinah mulai menipis Djamilah dan Nadjmuddin mulai memikirkannya. Pasalnya, paman Djamilah yang tinggal di Madinah mulai nfeminta ongkos kirim.”Akhirnya sebagai pengganti ongkos kirim, ketika itu, kami mematok tarif Rp 10.000. Tápi itu hanya dilakukan terhadap orang mampu. Bagi pasien tidak mampu kami tetap pada komitmen semula, menolong tanpa painrih,” jelas Djamilah yang diiyakan oleh suaminya.Berbekal kemampuan pengobatan tradisional yang terus meningkat, pasien yang datang pup mulai bervariasi.

Jika pertama kali yang datang sebagian besar pasien yang berpenyakit maag. liver dan sejenisnya, kini ada juga yang datang untuk mengo sabtu  (WAGE)20 maret 1999, bati pengakit kankernya. Untuk penyakit berat seperti itu, menurut Nadjmuddin dan Djamilah, mereka meminta pasien memperlihatkan kepastian penyakitnya dengan tes hasil laboratorium. “Barulah kami memberikan pengobatan tradisional.” ujar Djamilah.

Kenapa demikian? Menurut Djamilah, pihaknya selain harus tahu benar penyakit yang diderita si pasien, ia juga bisa mengevaluasi hasil pengobatannya. “Alhamdulillah beberapa pasien kami yang terkena kanker sembuh tanpa harus dioperasi,” je asnya. Pijat juga Kini, setiap hari, tak kurang dari 40 pasien berkunjung ke tempat praktik, di rumahnya yang berlantai dua. Satu per satu tamu tersebut dipijat refleksi secara tradisional. Kemudian pasien dibekali sejumlah obat traefektif daripada diabetes. Lihat tabel Hingga sekarang kita tidak pernah berpikir bahwa terapilah yang dapat menjaga badan kita agar selalu prima Perlu ditekankan bahwa sebagai mahluk hidup badan kita memiliki me tabolisme sendiri. Badan kita sangat berbeda dengan kue Jika kurang manis tinggal ditambah gula, jika kekurangan kalsium dapat ditambah degan kalsium Tubuh kita sama sekali tidak demikian.

Kita juga selalu berpikir tentang makanan yang “bergizi tinggi” dan yang selalu dipikirkan adalah bagaimana menambahnya, tetapi kita tidak memikirkan bagaimana membuangnya. Padahal badan kita harus membuang zat-zat makanan yang berlebihan, yang salah dan beracun. Maka dari itu kita perlu memikirkan lagi mulai sekarang, agar jangan sampai terlambat. Para tabib kuno, sejak ribuan tahun lalu hal itu sudah memikirkannya, mengapa kita tidak memikirkannya? (Muhtar/”PR”) disional hasil racikan sendiri yang sudah dikemas dalam ben- tuk kapsul. “Beginilah saya dan suami setiap hari. Pagi saya yang melakukan pengobatan. Suami sore dan malam harinya, sepulang dari kampus,” kata Djamilah yang tak lagi hanya mengandalkan ramuan dari Saudi Arabia, tapi juga menggunakan ramuan khas Indonesia, yang ia peroleh lewat proses belajar yang terus mencrus. Prinsip mereka, menurut Nadjmuddin setiap penyakit pasti ada obatnya, kecuali ketuaan.

“Selain memberi obat kami juga memohon penyembuhan kepada Allah SWT,” tutur Nadjmuddin, kelahiran Sukabumi itu.Sementara itu, tak ada tanda- tanda khusus di ruang praktik yang berkukuran 4 x 4 meter persegi itu. Di ruang yang tertata bersih itu terlihat sepotong alat bantu pijat refleksi berukuran sebesar telunjuk tangan yang tere buat dari bahan kayu. Menurut pengakuan Djamilah, alat bantu itu selalu dipergunakan untuk melakukan praktik tradisi,  onalnya. Selain alat bantu pijat tersebut, ada stetoskop, sebuah  meja periksa, dan beberapa kartu ko administrasi pasien.Namur demikian, kata Djami -lah, tak semua pasien dipijat refleksi. Jika berdasarkan peng amatannya pasien tak perlu direfleksi,  cukup memberinya obat-obatan. “Insya Allah akan ada perubahan menuju ke arah yang lebih baik,” tutur Djamilah seraya mengatakan, saking ba” nyaknya pasien, ia kehabisan obat. Akhirnya, pasangan terse” but menuup praktiknya selama nepekan.

Sejumlah surat dari mantan pasien yang pernah berobat dan sembuh mereka terima. Surat tersebut antara lain dari penderita kanker payudara Ny Yuningsih warga J1 Cihampelas, Gg Margasetia No. 354/25 RT 05 RW 07, Kelurahan Tamansari Bandung dan Ahmad Fauzi warga Ji Kemuning IV No. 41 Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang sembuh dari penyakit Hepatitis Berbagai undangan seminar serta kerjasama tentang peng obatan tradisional pun berdatangan. Bentuknya ada yang meminta untuk berceramah dan yang me minta bekerjasama dengan mem- buka praktik di tempat lain.

“Kalau undangan berseminar selalu kami penuhi, tetapi membuka paktik di tempat lain masih per lu kami pikirkan lebih jauh lagi,” aku Nadjmuddin. Kata Nadjmuddin, ketika per- tama kali bertemu dalam organi– sasi Persatuan Islam Indonesia (PII), ia sama sekali tak mengira; jika hidup keduanya akan berge- lut di bidang pengobatan alterna– tif. “Saya ketemu ibunya anak- anak dalam sebuah pengajian yang diadakan PII Tegal,” cerita Nadjmuddin, tentang istrinya, yang asal Bumiayu tersebut. Ke- duanya menikah 15 Agustus 1975 di Bumiayu. Pasangan tersebut menggu- nakan uang hasil dari penjualan obatnya, Rp 20.000 per paket, tak cuma untuk bersenangse nang. Uang itu juga digunakan untuk mendirikan pesantren, di tempat kelahiran Nadimuddin, kampung Cimanggu, Desa Ciheulang, Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jabar.Kini, pesantren yang dibangun Nadjmuddin, alumnus Pesantren Gontor ini, berdiri di atas tanah seluas 4 hektar. Di situ para santri setingkat SMP dan SMU tinggal dan belajar. “Semua siswa mondok dengan fasilitas asrama yang sudah tersedia,” jelas Nadjmuddin.szi


Diliput oleh pikiran Rakyat mengo sabtu  (WAGE)20 maret 1999

Pengobatan Tradisional Ny. Djamilah Najmuddin
https://djamilah-najmuddin.com

Lokasi terapi baru (pindah dari Babakan Ciparay)

Jl Guntur Madu No. 3
Kel. Turangga, Kec. Lengkong, Kota Bandung

Kontak dan Janji Temu

081214408050
08157119940


0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *